Oleh : Mahkamah Iqbal Perdana Putra. SH. (Alumni Smanda 2005)
Terkenal akan menjadi disanjung, dihormati, dihargai, dikagumi..alangkah bangganya hati ini jika kita mampu meraihnya. Berbagai cara kita lakukan, dari yang sportif hingga melakukan kecurangan, hanya untuk meraih ketenaran. Tapi, tidakkah kita berpikir, diaantara hal-hal yang membuat hati kita bingung, yang menggangu ketenangannya adalah ambisi agar dikenal dan mendapat simpati orang lain.
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi” (QS. Al-Qashash: 83)
Tak ada salahnya kita memotivasi diri untuk bisa tampil lebih baik, tapi ketika ambisi itu membakar jiwa, akan menggerakkan pemikiran kita dengan penuh keegoisan tanpa nalar yang jernih, hingga akhirnya kita tak tersadar bahwa kita telah masuk ke jurang kesombongan.
Salah seorang penyair mengatakan yang sebaliknya,
“Orang yang berhasil menaklukkan jiwanya adalah orang yang telah menghidupkannya dan menjadikannya tenang, dia akan tidur dengan nyenyak.Toh, kalaupun angin itu berhembus semakin kencang,maka yang diterpanya tetap bagian pepohonan yang tertinggi, bukan?”
Ketika melihat teman kita sukses dan dipuji semua orang, ada 2 pemikiran yang saling bentrok dalam benak, pikiran tersebut berlomba-lomba mempengaruhi kita, (Bahkan, andai saja kita bisa melihatnya, 2 pemikiran tersebut saling adu pedang dan senjata, so’ jadi Perang Dunia ke-3)
* Syukurlah, akhirnya dia berhasil, aku turut bahagia, aku termotivasi untuk bisa lebih sukses (Baik)
* Wah..kok dia bisa seperti itu, bagaimanapun caranya, aku harus mengalahkan dia, agar sanjungan orang berbalik padaku (Buruk)
Pemikiran mana yang akan merasuki kita?!jawabannya tentu saja teman-teman yang mengalaminya. Syukurlah kalau pemikiran baik, tapi kalau buruk, hati akan buta dan kita layaknya menjadi manusia bertopeng yang tampil baik dihadapannya, tapi dibelakangnya kita berusaha menghancurkannya. Padahal, semakin terkenal dan sukses seseorang, rintangan dan tantangan akan datang dari berbagai penjuru, berusaha mematahkan langkah kita. Bagi yang selalu berpikir positif, akan mudah melihat celah dan berusaha menghadapi dan menghindarinya. Tapi, bagi yang mempunyai ambisi, kita tidak akan sanggup melihat pusaran Black Hole ( Lubang Hitam) yang berputar diantara kita, sehingga kita akan tertelan didalamnya, kita hancur akibat ambisi kita.
“Barangsiapa berlaku riya’, maka Allah akan bersikap riya’ kepadanya, dan barangsiapa menginginkan kemasyhuran maka Allah pun akan memamerkan kemasyhuran-Nya kepadanya” (Al-Hadits)
Allah berfirman
“Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia” (QS. An-Nisa : 142)
“Dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan” (QS. Ali Imran: 188).
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia” (QS. Al-Anfal: 47).
Kita mengerjakan kebaikan agar dilihat dan disanjung orang, niat sudah berbelok dari yang semestinya mengharap ridho Allah swt., sungguh rugilah dan sia-sialah amal yang dikerjakannya. Apakah kamu sudah puas dengan sesuatu yang telah kamu kerjakan dan ribuan pujian datang menghampiri, padahal pujian itu belum tentu diucapkan tulus bagi yang mengucapkannya?!bisa jadi itu hanyalah kata-kata yang penuh kebohongan. Ibarat bunga reflesia (bunga bangkai), semua orang memujinya tetapi juga menghujatnya karena bau. Percuma memeras keringat kalaupun toh hanya hasilnya semu, pujian dari orang tidak akan bisa dibawa mati, tapi amallah yang akan menemani kamu di alam kubur. Mengapa kamu tidak mengharap pujian dari Allah yang Al’ Aliim (Maha Mengetahui) dan Asy-Syahiid (Maha Menyaksikan) atas perbuatan yang kamu lakukan. Pujian dari Allah sungguh benar karena Dia-lah (Al-Haqq (Maha Benar), dan kamu sungguh beruntung telah dipuji oleh Allah swt. Dzul Jalali wal ikram (yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan) dijagat raya ini. Pujian Allah swt. Ibarat bunga melati dan mawar yang keharumannya bisa membuat hatimu tenang.
Seorang penyair mangatakan,
“Pakaian riya menggambarkan apa yang dibaliknya,Jika memakainya, sebenarnya engkau sedang telanjang”.

